8.7.15

Magic VS Mentalism S02E03








Bagaimana?
Apakah sudah setuju dengan pendapatku sehubungan dengan video yang ada di artikel Magic VS Mentalism S02E02 ?

Membuka Facebook, Path, Instagram, Messaging, Browsing, sharing foto adalah kegiatan sehari-hari pengguna smartphone, tapi iPhone menunjukan kepada kita sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih bermakna. 
Pernahkah terpikir oleh kita si bisu bisa berkomunikasi lewat handphone?
Pernahkah terpikir oleh kita si buta bisa berkomunikasi lewat SMS?
Pernahkah terpikir oleh kita si jauh bisa berkomunikasi seakan-akan dekat?
Ketika kita menyaksikan cuplikan-cuplikan iklan iPhone, kita memposisikan diri sebagai si bisu, si buta, dan si jauh, sehingga pesan yang disampaikan dengan cepat akan terserap. Dan ini yang menyentuh emosi kita dan memberi inspirasi, dan akhirnya menimbulkan keinginan untuk memiliki iPhone, karena iPhone telah memberi arti pada hidup seseorang dan mungkin saja masih banyak yang bisa kita lakukan dengan iPhone tersebut. Bandingkan dengan Samsung yang hanya menunjukan kelebihan smartphone-nya tapi semua kelebihan itu hanya berguna untuk membuat orang lain kagum dengan kata lain show off. Apakah ini menyentuh emosi kita? I don't think so.




"PLIIIISSSSSSSSS DEHHHHH.....!!!!!! SULAPNYA MANAAAAAAAA!!!!!!"


Okeeeeee kembali ke sulap..

Pada artikel pertama Magic VS Mentalism S02E01 diberikan contoh seorang pesulap mengeluarkan kelinci dari dalam topi yang kosong. Mungkin yang dilihat oleh penonton adalah pesulap itu sedang mempertunjukan suatu kekuatan supranatural, kekuatan yang bisa menyebabkan sesuatu dari tiada menjadi ada. Contoh kedua adalah seorang mentalis sedang memprediksi sesuatu yang akan terjadi, dan prediksinya benar. Mungkin yang dilihat oleh penonton adalah mentalis itu sedang mempertunjukan suatu kekuatan supranatural, kekuatan untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

Pertanyaannya, manakah dari kedua trik itu yang menyentuh emosi anda?

Seperti halnya dengan contoh smartphone diatas, Di benak penonton, dia akan menghitung segala keuntungan yang akan dia peroleh jika dia memiliki kemampuan untuk bisa melihat apa yang akan terjadi. Dibandingkan ketika penonton melihat seekor kelinci keluar dari topi kosong, sebuah kemampuan yang mungkin menjadi prioritas terakhir dalam hidupnya.

Sulap dan mentalisme sama-sama memperlihatkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, tapi mentalisme juga memberikan sesuatu yang dibutuhkan, diinginkan oleh penontonnya. Dan itulah yang menyentuh emosi penontonnya.

Karena pada dasarnya efek dari mentalisme adalah sesuatu yang dibutuhkan, mentalisme (bila disajikan dengan baik) akan selalu berhasil menggugah keinginan penonton, menyentuh emosi penonton. Tapi tidak banyak yang mengetahui hal ini, sehingga pada akhirnya ketika yang ingin di tampilkan adalah mentalism malah hanya berakhir pada mental magic.





 To be continued..


Kata-Kata Kunci Hari Ini:
"Emotion is the secret language of the brain… yang diatas itu foto siapa? "



1 comment:

KKP said...

Theodore Anneman, Oom oom yang nulis buku mentalis bertaun taun lalu kalo ga salah PDJYICMBTN? apabila salah mohon dibenarkan.